Sabtu, 2009 Mei 02
Kita Melupakan Ibu Pertiwi
Padahal esensi cinta bukanlah seperti itu, cinta tidak mengenal “karena”. Jika seseorang menyukai seseorang lainnya karena kecantikan atau ketampanannya. Itu bukan cinta, tapi takjub. Jika seseorang mencintai karena hartanya. Itu bukan cinta, tapi matrealis. Jika seseorang mencintai karena kepandaiannya atau kelebihan lainnya. Itu bukan cinta, tapi kagum. Jika seseorang mencintai karena kebaikannya. Itu bukan cinta, tapi rasa balas budi atau terima kasih. Sebab cinta bukan “karena” tapi cinta adalah “meskipun.” Meskipun ia tak sempurna. Sebagaimana pernah disampaikan salah seorang kerabat saya, ”cinta pada hakekatnya adalah menerima orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna.”
Tidak hanya kasus itu, para TKW Indonesia yang dijadikan ajang kreatifitas tangan-tangan besi majikannya, budaya-budaya Indonesia yang dicuri Malaysia, dan wilaya-wilayah kita yang dicaplok negeri Siti Nurhaliza itu juga membuat hati saya merah membara. Betapa kita (WNI) tidak cukup sadar bahwa kita telah banyak dihina mereka. Jika rasa hubbul waton kita sudah hilang, kenapa kita tidak menjual saja negeri kita yang mengandung banyak muatan kekayaan alam ini?
”Where’s our love for our country?” pertanyaan saya itu membuat sub-question lagi di sel-sel otak saya. Itu pula yang mendasari saya menanyakan cinta pada beberapa kerabat saya, “siapa saja yang kalian cintai?” jawabannya beragam, tentu saja! Tapi mereka kompak menempatkan posisi “IBU” di puncak klasemen cinta mereka. Jujur, saya pun tidak menampik bahwa cinta saya pada bunda juga ada di posisi number one. Lalu apa masalahnya? Mereka (kerabat-kerabat saya itu) tidak mencantumkan “IBU PERTIWI, Indonesia” dalam love list mereka. Yach… bisa jadi, itu karena pertanyaan saya memakai subjek “siapa” bukan “apa” (esensi “siapa” secara harfiyah adalah benda hidup, dan esensi “apa” adalah benda mati). Tapi… itu pula yang menyadarkan saya bahwa kerabat-kerabat saya ini tidak begitu menganggap negeri ini (Indonesia) hidup. Sungguh, How pity you’re, Indonesia! Anak-anakmu tidak mempunyai cukup cinta untukmu.
***
Beberapa hari lalu, saya telah menerima surat dari MENPORA. Dalam surat itu, saya lolos seleksi ”ASEAN University Student Conference” melalui makalah “Enriching and Preserving Our Cultural Heritage” yang saya buat dengan peluh dan doa. Dalam acara yang hendak digelar di Bandung tanggal 20-24 Mei nanti itu tentu saya akan bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa ASEAN yang terpilih lainnya. Dan tentu saja, saya akan bertemu mahasiswa asal Malaysia. Pada kesempatan bertatap muka itu saya akan memberi ”giving” pada Malaysia yang telah berulang kali ”menginjak-injak” harga diri Indonesia. Just wait for my giving. OK!
Indonesia, NU, dan UNWAHAS... kepadamu, aku berjanji akan mengibarkan benderamu tinggi-tinggi. Ya Allah... ihfidz niyyati ’ala sabilika, Ya Robb... Semoga niat ini tidak tercemar kepentingan-kepentingan lainnya. Amien... Indonesia, you’ll never walk alone! Wallahu A’lam.
Kamis, 2009 April 23
Remaja Indonesia Rajin Membaca dan Menulis
Adalah operator 3 yang nampaknya pantas mendapat sambutan luar biasa karena turut membawa pengaruh besar dalam menanamkan budaya membaca dan menulis dalam kegiatan sehari-hari remaja
Kirim SMS memang telah menjadi semacam
Untuk semua pengguna 3, jangan gunakan fasilitas SMS gratis itu untuk mengganggu orang lain. Karena siapa tahu, orang-orang yang anda “serang” dengan SMS gratis itu sedang super sibuk, sedang ingin menghubungi koleganya, atau bisa juga handpone-nya orang yang kalian ganggu itu hampir sekarat. Tolong, tanamkanlah rasa peka anda terhadap sesama, bukalah perasaan anda dalam berempati terhadap orang yang anda ganggu itu, luangkan pula waktu anda untuk kegiatan yang lebih positif ketimbang hanya saling berbalas SMS yang tidak penting. Hargailah waktu kita, karena kita hanya punya hari ini, sebab hari kemarin telah terlewati dan hari esok masih menjadi misteri. “Hidup Bukan Hanya Urusan SMS” setidaknya jargon itu bisa kita terapkan mulai dari sekarang.
Minggu, 2009 Maret 01
Tahun Awal di UNWAHAS: IP-ku 3,90
Ingin hasil perfect, atau setidaknya mendekati sempurna. Itulah harapanku atas berbagai mata kuliah di prodiku, Hubungan Internasional (FISIP UNWAHAS Semarang). Berbagai mata kuliah ingin aku lahap dengan serius. Mulai dari yang belum pernah aku kenal sebelumnya, seperti Pengantar Ilmu Politik, Pengantar Sosiologi, Pengantar Filsafat, dan Pengantar Ekonomi, hingga yang jamak aku dapatkan semasa sekolah dulu, seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Pancasila, dan Pendidikan Agama. Padahal sebenarnya, untuk mengejar standart minimum beasiswa yang aku peroleh pun cukup dengan perolehan 3,00. Tapi aku tak mau berhenti pada nilai itu, kepalang basah! maka target IP-ku pun tidak main-main, yakni minimal 3,80.
IP 3,80 jelas bukan jumlah yang sedikit, mengingat batas maksimum IP adalah 4,00, jadi target 3,80 adalah mendekati sempurna. Saat mematok target itu pun aku yakin, bahwa cara meraihnya pun tidak asal-asalan, mesti jungkir balik, dan yang pasti harus lebih ganas dalam melahap buku-buku tebal. Lebih tepatnya, aku harus bisa menjadi predator buku! Bukan hanya menjadi kutu buku.
Jumlah teman sekelasku pun tidak banyak, hanya sekitar 15 anak saja. (Maklum... secara umum, peminat FISIP memang tidak begitu banyak. Apalagi jurusan Hubungan Internasional yang di Jateng hanya ada di UNWAHAS saja. Itu jelas mempengaruhi nilai jual HI di wilayah Jateng.) lima belas anak itu, semuanya peraih beasiswa awal, dengan skill di atas rata-rata (tapi tidak semuanya dech) tapi tentu saja, kami semua tetap harus berpacu menjadi yang terbaik. Lebih-lebih aku, yang sudah masuk list beberapa dosen FISIP. (Malu dong kalau nggak bisa be the best)
Tapi cobaan menimpaku, sifat asliku muncul: malas belajar! Maklum... zaman sekolah dulu. Di madrasah dan pesantrenku dulu aku tidak begitu ngopeni pelajaran semacam ini. Pelajaran-pelajaran umum adalah hal yang jamak diabaikan olehku. Walhasil, waktu-waktuku di sini memang lebih banyak bermuara pada sisi lain dari mata kuliah.
Awal-awal masuk dulu, aku diminta dosen dan beberapa senior untuk jadi panitia Kongres Akbar Pemilihan BEM. Terus terang, awalnya aku tidak mau, karena ini jelas akan mengurangi jatah waktu belajarku (hwehehe... gayaku sok rajin belajar) tapi ternyata, anak baru yang jadi panitia tidak cuma aku saja, ada beberapa yang jadi panitia (ternyata mereka daftar sendiri untuk jadi panitia).
Setelah acara yang menurutku cuma mengobral omong kosong dan membuang-buang waktu dan uang itu selesai, aku kembali jadi YAB. Sssttt... diam-diam aku mulai merancang impian-impianku untuk UNWAHAS. Program-program yang dulu pernah aku rencanakan sebelum benar-benar masuk UNWAHAS, aku rancang, dan tentu saja aku mengumpulkan massa untuk berepot-repot, menyibukkan diri dengan program-programku dalam “menghidupkan” nyawa emulasi kampus. Mengingat jargon zaman ini adalah, “kuasailah media” maka media internal kampus menjadi obyek utama kami. Akhirnya, jadilah buletin elwahid, yang alhamdulillah mendapat respon positif dari banyak kalangan universitas. Welehh... welehhh.... semoga aja langgeng. Amien. (namun elwahid sebenarnya saya harapkan akan berkembang menjadi majalah kampus. Doain aja yach...)
Namun, tidak sedikit pula yang merespon negatif, terutama kalangan-kalangan “mamang”, (maaf jika saya anggap demikian, karena sifat pesimis mereka yang acap mengganggu kinerja kami.) Dari sini saja pikiranku segera menerawang ke mana-mana. Ooo... kubu-kubu di sini ternyata mirip partai-partai di negaraku. Sama warnanya namun bisa pecah menjadi dua, tiga dan seterusnya. Sama niat baiknya, tetapi macam-macam cara menjalankannya. Lumayan jika cuma beda cara. Tetapi ada niat baik yang begitu banyaknya sementara kebaikannya sendiri tidak muncul-muncul juga. Hingga akhirnya media yang saya dirikan itu pun membuat beberap pihak kalng kabut dan akhirnya turut memperbarui media mereka. Konflik emulasi di kampusku itu sungguh mengisyaratkan tentang bermacam-macam keadaan yang ada di otakku. “OK... silahkan kalian main keras, saya tidak berminat. Kami ingin main cerdas saja! Hwehehe.....” kilahku saat itu. Karena kerja keras saat ini tidak lebih jitu daripada kerja cerdas.
Setelah sukses dengan program pertama, aku masih seperti dulu: mencintai sastra. Maka aku tegaskan untuk mengikuti sayembara cerpen se-Jateng, Jatim, dan DIY. Walhasil, hari-hariku pun sibuk dengan berfikir kreatif menyusun ide dalam cerpen. Hingga hasilnya, lahirlah cerpen berjudul: LiNGKARAN. (sayang... gagal jadi the best. hehehe...)
Kesibukan itu jelas memakan waktuku untuk belajar, padahal saat itu aku sadar betul bahwa aku sedang UTS (Ujian Tengah Semester) tapi karena keburu “nafsu” cerpen. (yach... mungkin karena terlalu cinta, hehehe....) maka hari-hariku lebih bertumpu pada pergulatan metafora, diksi, dan gaya bahasa, daripada berpusing-pusing dengan buku-buku tebal kuliah. Ironisnya, aku lebih banyak keluar duit untuk buku-buku sastra daripada buku-buku Sosial Politik. (Gila kan??)
Terus tertang kesibukan-kesibukan yang tidak begitu penting itulah yang banyak bermuara pada hari-hariku di UNWAHAS, hingga masa UAS selesai, ada dua mata kuliah yang dulu aku tidak sempat mengumpulkan tugas paper, makalah. Hingga akhirnya aku curhat dengan salah satu senior yang memang akrab denganku, kebetulan tahun kemarin dia menjadi peraih IP terbaik. Muhammad Masykur Afandi, aku acap memanggilnya Bang Fandi. “Alhamdulillah... UAS kemarin aku bisa ngerjain dengan optimis sukses, tapi Bang.... aku belum buat tugas membuat makalah Pancasila dan Agama.... kira-kira gimana ya??” keluhku saat itu. Dan aku masih ingat betul saat dia menasehatiku, “Ingin hasil yang terbaik kok tidak melakukan yang terbaik.” Saat itu aku langsung sadar diri, target 3,80 mungkin memang harus dibiarkan melayang saat ini. Aku merasa sangat berdosa dengan diriku, dosenku, orang tuaku. (kesepakatan dengan sahabat-sahabatku di universitas lain pun jadi kebayang.... “yang IP-nya sedikit ngasi hadiah ama yang IP-nya tinggi.” Ughhh.... berapa rupiah yang mesti aku keluarkan untuk memberi hadiah-hadiah pada mereka? Huhuhu...)
Namun aku tidak ingin larut dalam penyesalan, toh, aku memang masih asing dengan berbagai mata kuliah itu, (terus terang materi-materi FISIP, terutama HI, bikin aku cepet BeTe. yach.. masih asing sich... secara, aku kan dulu jebolan IPA). Namun semua itu hilang saat aku dikabari bang Fandi, bahwa dia telah mengecek, IP-ku lebih dari harapan, 3,90. Subhanallah.... aku langsung mencak-mencak, jengkulitan. Hwohoho... (Ya Allah... saya janji dech, semester depan saya akan berjuang lebih sungguh-sungguh dalam belajar dan kuliah. Saya tidak ingin mengecewakan impian saya, orang tua, dan dosen saya.) saya jadi teringat dengan pesan salah salah dosen saya, “Apa yang kamu pikirkan, itulah yang akan terjadi.”
Syukron ‘ala a’tho’ika, ya Allah.... Engkau selalu memberi lebih dari apa yang aku harap.Wallahu A’lam. Terakhir dan ini terpenting bagiku, mata kuliah yang sebenarnya asing ini mengajariku meyakini satu hal: “Jika segala sesuatu dikerjakan sesuai porsinya, tak peduli betatapun lambat kita berusaha, selama kita berfikir kita bisa, maka kita akan menuai hasil maksimal juga! If U think U can, U can. OK”
Kamis, 2008 November 06
ada mendung di hatiku
Ku nanti hujan di pucuk musim rindudan ternyata tibalah saatnya, Novemberkusaatnya menuai lembaran-lembaran airmenebar jejak di atas tanah
Rintiknya merdu…Semarang yang panas menjadi dingin.
Basah…
Saat itulah datang rintik-rintik
Menemani anak-anak berpesta air
Sorak sorai…
Inilah saatnya kita membajak ceritatentang atap-atap yang berdenting
tentang senandung bambu di atas tanah basah.
tapi kini..
masih kunanti hujan kata di pucuk musim ceritabersama kesibukan yang meruntuhkan tanggul-tanggul idedan bibit-bibit imajinasiku masih saja mandul.
Aku kehilangan banyak kata!
Kesibukanku mulai deras.
Membanjiri waktu khayalku
Dan seseorang di ujung sana
Memasungku dalam buaian kata
Aku dihujam rintik-rintik kata yang bisa membuatku angkuh
Ingatkan aku…
Aku masih bukan siapa-siapa!
November telah dimulai dari kemarin
Tapi ladang karyaku masih gundul
Dan waktu bertanam kata nampaknya semakin mahal
PP. Wahid Hasyim Sampangan - Semarang, 06 November 2008
Selasa, 2008 November 04
Mari Mencari Cara untuk Turun
Kekeliruan mereka tentu bisa bertingkat-tingkat kelasnya. Dari yang sekadar tak puas jika hanya menjabat sekali, lalu ingin menjabat untuk yang kedua, sok merasa rakyat masih menghendaki ia memimpin lalu dengan segala cara ingin memperpanjang masa jabatannya, hingga tingkat yang paling rimba: kemauan untuk berkuasa selamanya. Akhirnya, proses turun yang mestinya menjadi laku alamiah dan biasa-biasa saja justru mengakibatkan babak belur, luka-luka, dan rasa sakit belaka.
Hikmah dari cara turun yang kacau itu ialah segagah dan sebesar apa pun pemimpin kita, tak peduli berapa banyak bintang jasa yang dikumpulkannya, betapa memukau karisma kebapakannya, mereka ternyata selalu seperti para pendaki gunung yang gagah menaklukkan puncak, namun kebingungan ketika harus mencari jalan untuk kembali turun ketika waktunya tiba. Karena itu, yang akhirnya terjadi adalah bingung dan nervous yang amat sangat, juga suasana yang mendebarkan di mana-mana. Kronologi selanjutnya, suhu politik naik, ekonomi kacau, demo di mana-mana, pejabat tunggang langgang, adegan saling dorong, jatuh, dan akhirnya rasa sakit yang tak terhindarkan.
Pemimpin yang turun menapaki anak tangga satu demi satu dengan wajah tersenyum sambil dipegangi sebelah tangannya seperti anjuran filsafat mikul dhuwur adalah impian semua pemimpin kita. Pak Harto bahkan pernah berkali-kali menyampaikan, bahwa mengisi masa pensiun sambil madheg pandita ratu adalah impian mewah terakhirnya. Tapi, ternyata tetangga dekat kita, Singapura-lah yang sukses mempraktikkannya. Lee Kwan Yew yang dua tahun lebih muda dibanding Pak Harto lengser keprabon pada 1990 setelah menjabat sejak 1965. Setelah kursi perdana menteri ditempati Goh Chok Tong, Lee didudukkan di kursi goyang sebagai menteri Kanan di jajaran kementerian Goh.
Dibandingkan Singapura, Indonesia punya jam terbang lebih tinggi soal gonta-ganti pemimpin. Telah enam kali kita punya pengalaman ganti presiden sejak republik ini berdiri. Tapi, mulai presiden pertama Soekarno, kemudian Soeharto, Habibie, Gus Dur, hingga Megawati, semua lengser dengan cara yang tidak happy.
"Inilah saatnya menutup satu babak dalam sejarah Singapura dan memulai babak baru," kata Goh Chok Tong dalam pidato serah terima jabatan kepada Lee Hsien Loong, perdana menteri yang sekarang. Ada kesan rapi ketika era lama berakhir dan era baru mengganti. Jauh berbeda dengan kita, cobalah simak bagaimana Soekarno jatuh lalu digantikan Soeharto, dan Soeharto pun akhirnya diturunkan paksa. Habibie jatuh, lalu digantikan Gus Dur yang tak lama kemudian digusur. Sebagai presiden dengan bakat humor yang nyaris tiada tanding, proses turunnya Gus Dur dari kursi istana ternyata tak sedikit pun mampu memancing tawa kita seperti humor-humor Gus Dur biasanya. Kita semua ingat, pada saat-saat terakhir kejatuhan Gus Dur, televisi menyiarkan tayangan langsung dari istana yang sedang panas dan Gus Dur yang selama rezim Ode Baru selalu mampu menghibur kita semua dituntun ke sana-kemari hanya dengan celana kolor.
Kita memang tidak tahu secara detail bagaimana Soekarno turun dari kursi kepresidenan kala itu karena belum datang era televisi yang bisa menyiarkan secara langsung detik-detik presiden dijatuhkan. Tapi, dari berbagai referensi dan cerita mulut berbagai versi, presiden pertama kita, agaknya, memang jatuh tersungkur secara menyedihkan. Soekarno tak sekadar terpeleset dari anak tangga kekuasaannya yang tinggi, tapi ada semacam proses mendorong yang begitu kasarnya.
SBY memang baru akan mengakhiri masa jabatannya pada 2009. Namun, proses saling dorong antara kubu Mega dan SBY, tampaknya, telah dimulai sejak awal tahun kemarin, sekadar untuk menegaskan bahwa "duel" memang belum berakhir. "Pemerintahan saat ini, saya lihat seperti penari poco-poco. Maju satu langkah, mundur satu langkah. Maju dua langkah, mundur dua langkah. Kadang malah hanya jalan di tempat," kata Megawati dalam pidato politik Ulang Tahun Ke-35 PDIP di GOR Sriwijaya Palembang tempo hari (jawa pos 31/1).
Sindiran itu langsung dibalas kubu SBY. "Kalau kebijakan SBY tentang pemberantasan kemiskinan ibarat penari poco-poco, Megawati ibarat penari undur-undur. Tidak pernah maju, tetapi mundur terus," kata ketua Fraksi Partai Demokrat DPR. (jawa pos 2/2).
Yang menjadi misteri dari babak ending ini adalah bagaimana detik-detik Presiden SBY dalam mengakhiri masa baktinya. Tapi sepertinya menurunkan presiden dari singgasananya agaknya lebih keren dan mengasyikan dari pada berusaha menurunkan harga BBM yang tidak sesegera diturunkan Presiden SBY. Lepas dari warming up dorong-mendorong antara kubu Mega dan SBY. Bagaimana dengan serah terima jabatan rektor di UNWAHAS? Sudahkah madheg pandita ratu? Agaknya ada yang kesulitan untuk turun dari “singgasana sementara” di rektorat. Sebagai warga NU yang selalu menjunjung ta’awun. Mari kita bantu beliau turun dari kursi empuk yang telah membawa beliau tidur terlelap dalam jabatan sementara. Wallahu a’lam.
Minggu, 2008 September 21
kutanya....
jika kukutanyakan itu padamu
kan kau jawab apa??
Semarang, 19 September 2008
Kubaca, dan terus Kubaca
adalah kamus besar kehidupan...
berisi ragam kata
bermakna ragam kata dalam isi yang beda
bersusun huruf kehidupan
beragam kisah ada di dalamnya
tersimpan banyak nama di dalamnya
dalam kasus sama, mau pun yang lainnya
Nur Baiti Amalina adalah sebuah nama
tersusun dalam huruf-huruf cinta,
di hatiku,
hidupku,
dan kamus kehidupanku.
NBA adalah cahaya
saat huruf-huruf yang lain tak terbaca
ia hadir membawa ragam kisah yang berbeda
tertuang cinta yang selalu special untuknya
jika kulukis kata-kataku dalam kanvas hati
kan timbul cahaya-cahaya yang menelan hitam dalam kertas gelap
Tuhan... jika bukan karena-Mu,
roboh jiwa mendengar mereka
namun Kau beri aku NBA, yang datang saat yang lain biasa
Tuhan... jika bukan karena-Mu,
hancur hati putus asa
tapi Kau tuliskan aku cinta, dan aku mengeja....
N B A....
eN Be A...
dan eN Be A...
lalu kubaca perlahan dalam diam,
saat yang lain datang bersuara
kubaca, dan terus kubaca.... dan muncullah Nur Baiti Amalina
dalam asma-Mu, Tuhan....
kutemukan cinta dalam kamus besar kehidupan.
Kubaca, dan terus kubaca...
Nur Baiti Amalina, cukup.... itu saja...
Jepara, 21 September 2008
saat yang lain mempertanyankan cinta
NBA bukan hanya seorang kekasih hatiku, tapi lebih dari itu.
dia adalah inspirasi dan sumber semangat bagiku.
Aku cinta dia, cukup dia saja.
Jangan Kau tambah yang lain, Tuhan....
ijinkan aku memilikinya, karena-Mu
